Senin, 15 Oktober 2012

Kultur Jaringan


BAB I
PENDAHULUAN
I.1. Latar Belakang
Salah satu dampak dalam peningkatan ekspor komoditi pertanian adalah kebutuhan bibit yang semakin meningkat. Bibit dari suatu varietas unggul yang dihasilkan jumlahnya sangat terbatas, sedangkan bibit tanaman yang dibutuhkan jumlahnya sangat banyak.
Penyediaan bibit yang berkualitas baik merupakan salah satu faktor yang menentukan keberhasilan dalam pengembangan pertanian di masa mendatang. Salah satu teknologi harapan yang banyak dibicarakan dan telah terbukti memberikan keberhasilan adalah melalui teknik kultur jaringan.
Melalui kultur jaringan tanaman dapat diperbanyak setiap waktu sesuai kebutuhan karena faktor perbanyakannya yang tinggi. Bibit dari varietas unggul yang jumlahnya sangat sedikit dapat segera dikembangkan melalui kultur jaringan. Pada tanaman perbanyakan melalui kultur jaringan, bila berhasil dapat lebih menguntungkan karena sifatnya akan sama dengan induknya (seragam) dan dalam waktu yang singkat bibit dapat diproduksi dalam jumlah banyak dan bebas penyakit.
Kultur jaringan adalah metode perbanyakan vegetatif dengan menumbuhkan sel, organ atau bagian tanaman dalam media buatan secara steril dengan lingkungan yang terkendali. Tanaman bisa melakukan kultur jaringan jika memiliki sifat totipotensi, yaitu kemampuan sel untuk beregenerasi menjadi tanaman lengkap kembali.

Sabtu, 11 Juni 2011

Tanaman Hias


Balai benih Hortikultura Loka selain menghasilkan bibit kentang dan Talas juga mengembangkan Tanaman Hias. Hal ini dilakukan karena bantaeng ingin menjadikan kecamatan Uluere sebagai kota bunga dan agrowisata.
Tanaman Hias yang dikembangkan di Balai Benih Hortikultura diantaranya adalah Krisan, Pucuk Merah, Geranium, Wijaya Kusuma, Mawar, gerbera, Cemara Kipas, Asoka, Gladiol, sedap malama, dan Anggrek.

Senin, 06 Juni 2011

Talas satoimo / Safira

Awal keberadaan Talas Jepang Satoimo di Indonesia adalah pada masa pendudukan Jepang. Talas Jepang dikenal oleh masyarakat di Bantaeng dengan nama Talas Safira, di Toraja dengan nama Talas Bithek, dan di Buleleng Bali dikenal dengan Keladi Salak karena rangkaian umbinya seperti buah salak (LIPI, 2002). Konsorsium Satoimo Indonesia-Jepang bekerjasama dengan KADIN Indonesia, telah mulai melakukan Pengembangan Budidaya Satoimo di Indonesia sejak tahun 2003. Hingga akhirnya pada 16 Februari 2006 hingga saat ini satoimo dari Indonesia telah diekspor ke Jepang.

Tanaman Hias


Balai benih Hortikultura Loka selain menghasilkan bibit kentang dan Talas juga mengembangkan tanaman Hias. Hal ini dilakukan karena bantaeng ingin menjadikan kecamatan Uluere sebagai kota bunga.
Tanaman Hias yang dikembangkan di Balai Benih Hortikultura adalah Krisan, Pucuk Merah, Geranium, Wijaya Kusuma, Mawar, Cemara Kipas, Asoka, Gladiol dan Anggrek. Khusus untuk bunga krisan, jenis yang dikembangkan adalah jenis bunga potong dan pot.